[Unpad.ac.id, 2/09] Bukan rahasia lagi jika bumi Indonesia itu subur. Bukan rahasia pula jika banyak sekali keanekaragaman hayati menjadi kekayaan alam Indonesia. Namun kini faktanya segala macam kekayaan Indonesia dipandang belum mampu memberikan kemakmuran bagi rakyatnya dan membuat negara ini maju. Apa yang salah? Apa yang luput dari perhatian kita semua?
Arifin Panigoro ketika memberikan kuliah umum dalam rangka Dies Natalis Faperta Unpad ke-50 di Jatinangor (Foto: Dadan T.)
Pertanyaan tersebut muncul dalam kuliah umum Arifin Panigoro, pendiri Medco Group, di kampus Fakultas Pertanian (Faperta) Unpad, Jatinangor, Selasa (1/09). Medco Group merupakan salah satu perusahaan besar berskala internasional yang didirikan oleh pengusaha Indonesia. Kuliah tersebut dilaksanakan untuk menambah wawasan kepada sarjana pertanian serta dalam rangka menyemarakkan Dies Natalis Faperta Unpad ke-50. Dalam acara tersebut, tampak hadir Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, Dekan Faperta, Prof. Dr. Ir. Hj. Yuyun Yuwariah, sejumlah alumni dan segenap sivitas akademika Unpad.
Menurut Arifin, ironi tersebut timbul karena Indonesia masuk dalam jebakan pangan (food trap). Disebut jebakan karena potensi pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri belum teroptimalkan, sementara konsumsi terus berlanjut. Hal ini mengakibatkan Indonesia menjadi negara pengimpor.
Lebih lanjut Arifin mengatakan, terdapat dua masalah besar yang mengikis kemandirian pangan Indonesia. “Pertama berupa jebakan pangan atau food trap. Gangguan ini harus ditanggulangi, khususnya oleh pemerintah yang akan dilantik Oktober 2009 nanti. Jika kita terus masuk ke dalam jebakan ini, kesejahteraan rakyat menjadi taruhannya,” ungkapnya.
Seperti yang telah diketahui, pergerakan harga komoditas pangan dunia dipengaruhi oleh perekonomian dunia. Begitu pula dengan ulah para spekulan yang kerap menjadikan beban pada konsumen semakin bertambah. Sejatinya kesuburan tanah bukan jaminan adanya nilai tambah (value added). Hal ini bisa dilihat dengan memperhatikan tingkat kesejahteraan pedagang yang cenderung lebih tinggi daripada petani.
“Coba lihat Singapura, kita tahu bahwa negara terebut tidak mempunyai lahan yang luas. Tapi baru-baru ini Nestle berinvestasi di sana dengan membangun pabrik hidrokarbon sawit senilai US$ 1,2 miliar. Ini jelas sebuah inovasi energi dari bahan pangan yang memerlukan komitmen besar dari pemerintah dan segenap masyarakat,” ungkapnya lebih lanjut.
Contoh lain dari negara yang mengejar value added adalah Brazil. Negeri “Tari Samba” itu mampu menjadi negara pengekspor berbagai komoditas pertanian nomor 1 di pasar dunia. Bahkan akhir-akhir ini Brazil dikenal sebagai jawara biofuel. Hal ini dipicu kesadaran bangsa untuk menghindari krisis pangan, bebas dari kebutuhan impor yang membebani rakyatnya.
Arifin Panigoro menyerahkan bibit tanaman kepada mahasiswi Faperta Unpad (Foto: Dadan T
Masalah kedua yang dialami Indonesia saat ini, menurut Arifin, adalah food crisis. Sebagai seorang pengusaha, Arifin mengatakan bahwa menurut intuisi bisnisnya, kenaikan harga gula pasir yang mencapai angka Rp. 10.000,- per kilogram akhir-akhir ini merupakan sinyalemen dari krisis pangan. Pemerintah harus tanggap dan cekatan dalam menghadapi masalah ini. Sinyalemen lainnya adalah prediksi adanya El Nino yang akan menyebabkan produksi gandum mengalami penurunan hingga 40%. Berita ini ditanggapi oleh Amerika Serikat, China dan Australia dengan meningkatkan stok gandumnya.
“Jika kita lengah dan tidak memperhatikan sinyalemen ini, ketika ancaman anjloknya panen gandum menjadi kenyataan, maka harga komoditas ini pun melambung tinggi dan rakyat kembali menjadi korban,” sambungnya.
Hal ini menimbulkan pemahaman bahwa tidak hanya jebakan pangan saja, namun faktor cuaca pun menjadi penentu. Selain itu pertumbuhan penduduk Indonesia yang kian hari kian meningkat menjadi faktor pendukung lainnya. Arifin menambahkan, kunci sukses agar kemandirian pangan bangsa tercapai adalah inovasi. Semangat untuk membuat terobosan-terobosan baru yang inovatif dalam bidang pertanian sangat diperlukan.
“Bukan saatnya berpangku tangan dan marah-marah di media menghadapi masalah ini. Kita harus melihat hal ini sebagai sebuah tantangan. Indonesia adalah negara yang luas, masih banyak lahan yang bisa ditanami komoditas pertanian. Ada baiknya lahan yang telah tertanami dan potensi ekspansi segera kita identifikasi dengan benar Akurasi data menjadi kunci awal untuk langkah pembuka pengembangan pertanian berbasisi lahan tersebut,” imbuhnya.
Dari data Departemen Kehutanan yang dikutip Arifin, ditemukan fakta bahwa adanya puluhan juta hektar lahan kritis. “Jika inovasi teknologi peruntukan lahan kritis dikembangkan, dan memang harus kita kembangkan, maka potensi lahan untuk pertanian dan perkebunan bisa berlipat ganda besarnya. Jika data tersebut akurat, maka terdapat 70-an juta hektar lahan kritis. Ini artinya setara dengan 7 kali luas pulau Jawa! Kalau kita ada semangat berinovasi, maka masalah kemandirian pangan dengan ketersediaan lahan tersebut mestinya dapat teratasi. Bahkan Indonesia bisa menjadi lumbung dunia!” pungkasnya. (eh)*
Tidak semua program antivirus dapat membersihkan file yang sudah terinfeksi virus W32/Sality.AE. Malah bisa-bisa, file tersebut akan rusak setelah di-scan dan dibersihkan oleh antivirus yang tidak tepat.
Virus Sality akan menyebar dengan cepat melalui jaringan dengan memanfaatkan default share Windows atau share folder yang mempunyai akses full dengan cara menginfeksi file yang mempunyai ekstensi exe/com/scr.
Untuk itu, perusahaan sekuriti Vaksincom menyarankan pengguna komputer untuk menonaktifkan Default Share (C$, D$ .. dst) dan hindari full sharing folder Anda di jaringan.
Berikut 9 cara singkat membersihkan virus W32/Sality.AE yang diterima saya dari analis virus Vaksincom, Adang Jauhar Taufik,
1. Putuskan hubungan komputer yang akan dibersihkan dari jaringan dan internet.
2. Matikan System Restore selama proses pembersihan berlangsung.
3. Matikan Autorun dan Default Share. Silahkan download file berikut kemudian jalankan dengan cara: klik kanan repair.inf lalu install.
4. Matikan program aplikasi yang aktif di memori agar proses pembersihan lebih cepat terutama program yang ada dalam daftar startup.
5. Sebaiknya scan dengan menggunakan removal tools dengan terlebih dahulu merubah ekstensi dari removal tools tersebut dengan ekstensi lain [contoh: CMD] agar tidak diinfeksi ulang oleh W32/Sality.AE.
6. Agar komputer yang sudah terinfeksi W32/Sality.AE dapat booting safe mode, silahkan restore registry yang sudah diubah oleh virus.
Silahkan download file berikut kemudian jalankan sesuai OS yang terinfeksi W32/Sality.AE tersebut.
7. Fix registry lain yang diubah oleh virus, silahkan download tools berikut kemudian jalankan file tersebut dengan cara: klik kanan repair.inf lalu install
Ada banyak pilihan software antivirus yang gratisan di luar sana, namun tidak semuanya dapat kita andalkan.
Memilih sofware antivirus gratisan memang harus cermat karena meskipun banyak pilihan namun tidak semuanya mampu memberikan perlindungan terhadap virus komputer yang jumlahnya terus bertambah setiap harinya. Kita akan memerlukan sebuah software antivirus yang selain gratis juga cukup ampuh dalam melindungi komputer kita dari virus.
PC World mengulas 6 buah software antivirus gratisan yang patut untuk kita coba. Dan inilah keenam software antivirus gratisan tersebut:
1. Avira Antivir Personal
Kinerja: Superior Kemudahan penggunaan: Baik Fitur: Superior Kesimpulan: Avira AntiVir Personal menawarkan perlindungan yang cukup baik, namun menggunakannya mungkin akan cukup membingungkan para pengguna komputer yang masih awam Nilai dari PC World: 92
2. Alwil Avast Antivirus Home Edition
Kinerja: Superior Kemudahan penggunaan: Baik Fitur: Sangat baik Kesimpulan: Avast Antivirus Home Edition menawarkan perlindungan penuh dan satu set perlindungan yang cukup baik, namun perlu ada perubahan dari sisi antarmukanya Nilai dari PC World: 91
3. AVG 8.5 Free
Kinerja: Sangat baik Kemudahan penggunaan: Baik Fitur: Superior Kesimpulan: AVG 8.5 Free memiliki tampilan antarmuka yang cukup baik dan bisa memblok serangan web, namun kemampuan memblok malwarenya masih dibawah rata-rata Nilai dari PC World: 86
4. Microsoft Security Essentials Beta
Kinerja: Sangat baik Kemudahan penggunaan: Sangat Baik Fitur: Sangat baik Kesimpulan: Microsoft Security Essentials akan menjadi penantang serius ketika lepas dari versi betanya di penghujung tahun 2009 Nilai dari PC World: 86
5. PC Tools Antivirus Free Edition
Kinerja: Cukup Kemudahan penggunaan: Baik Fitur: Sangat baik Kesimpulan: PC Tools Antivirus tidak terlalu cukup dengan membiarkan banyak malware lolos dan menginfeksi komputer kita Nilai dari PC World:69
6. Comodo Internet Security
Kinerja: Cukup Kemudahan penggunaan: Baik Fitur: Sangat baik Kesimpulan: Comodo Internet Security bukan pilihan yang tepat karena kurangnya kemampuan dalam mendeteksi malware Nilai dari PC World: 68
I was a friendly and not arrogant, and I'm now in college at the University of Padjadjaran in Bandung, and now still terusmencari for science. if you have some knowledge, you can send this to my blog.
well